PEMUTARAN VIDEO DUPLIKASI BENDERA PUSAKA OLEH ITT DAN BBT

Kita sudah sangat mengenal sejarah bendera pusaka merah putih yang dijahit oleh Ibu Negara Fatmawati dan dikibarkan pertama kalinya pada momentum proklamasi kemerdekaan RI oleh Bapak Pendiri Bangsa, Soekarno dan Hatta. Setiap tahun bertepatan dengan perayaan HUT Kemerdekaan RI sang saka merah putih terus dikibarkan di lingkungan istana Negara, hingga pada saatnya harus koyak termakan usia. Sang saka merah putih harus disimpan dengan aman, sebagai bukti otentik heroisme di masa perjuangan merebut kembali kemerdekaan.

Namun tak banyak orang yang tahu bahwa pada tahun 1971 pemerintah RI melalui Sekertariat Negara meminta Depertemen Perindustrian agar membuat duplikat sang saka merah putih untuk pertama kalinya. Untuk memenuhi permintaan ini, Dirjen Industri Tekstil Departemen Perindustrian mengeluarkan Surat Perintah Tugas nomor 11 tanggal 12 Januari tahun 1971 kepada unit pendidikan yang ada di bawahnya, yaitu Institut Teknologi Tekstil/ITT (sekarang bertransformasi menjadi Politeknik STTT Bandung) untuk membuat duplikat sang saka merah putih. Hal ini ditindaklanjuti dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Direktur Utama Institut Teknologi Tekstil Nomor : 03/I.3.6.2/71 tanggal 21 Januari 1971 tentang Panitia Pelaksana Pembuatan Duplikat Bendera Pusaka. Tim panitia terdiri dari para ahli tekstil dari ITT dan Balai Besar Tekstil/BBT yang diketuai Almarhum Pawitro, S.Teks. Secara eksplisit SK ini menuliskan duplikat sang saka merah putih dibuat sebanyak 100 buah.

Hal ini terungkap dalam pemutaran video berjudul “Duplikasi Bendera Pusaka Tanpa Jahitan” yang dilaksanakan di Auditorium Gedung Magister Terapan Politeknik STTT Bandung pada hari ini, Selasa 17 Agustus 2021. Video berdurasi 28 menit itu menguak fakta-fakta menarik tentang proses pembuatan duplikat bendera pusaka. Selain itu banyak nilai-nilai luhur yang dapat menjadi refleksi bagi generasi muda saat ini melalui penuturan ketiga nara sumber, yaitu Soenaryo, S.Teks (ahli teknologi penyempurnaan tekstil), Widayat, S.Teks. (ahli serat tekstil) dan Elang, S.Teks (ahli teknologi pertenunan).

Fakta yang pertama dalah bendera duplikat sang saka merah putih terbuat dari benang sutra 100%, sutera yang berasal dari berbagai wilayah nusantara. Sutera merupakan serat protein alami yang memiliki karakter kuat, langsai dan kilau yang baik. Perbedaan wilayah penanaman dan pengolahan kepompong sutera menjadi filamen menjadi tantangan tersendiri karena mengakibatkan ketidakseragaman sifat fisik material. Selain itu bendera juga dibuat dengan teknik pertenunan khusus, yaitu anyaman rangkap (double weave). Dengan teknik ini silangan antara dua kelompok benang lusi dan dua kelompok benang pakan mampu membentuk dua lapis kain, merah dan putih dalam satu proses pertenunan, bahkan keduanya langsung menyatu tanpa jahitan. Pemilihan serat sutera sebagai material double weave dalam teknik pertenunan merupakan wujud dari sumbangsih nyata anak bangsa, mendarmabaktikan ilmu terapan tekstil untuk negara dengan cara memberikan nilai lebih pada panji Negara, sang dwi warna.

Fakta berikutnya adalah keterbatasan fasilitas mesin-mesin produksi yang dimiliki oleh ITT dan BBT pada  masanya menjadikan proses pembuatan duplikat sang saka merah putih tidak mudah. Proses pencelupan benang sutera dalam gulungan untaian harus dilakukan secara manual, sedangkan tahapan preparasi benang lusi (warping) harus dilakukan di PT Ratna, Ciawi Jawa Barat. Hal ini tentu menjadi kendala, namun bukan alasan untuk tidak menyelesaikan tugas Negara yang kadung diemban. Tak kalah penting, peran pimpinan tim yang senantiasa memberikan arahan dan dukungan menjadi energi tambahan untuk menuntaskan tugas yang syarat muatan nasionalisme tepat waktu.

Fakta terakhir adalah duplikat sang saka merah putih yang dibuat oleh ITT dan BBT pada tahun 1971 selanjutnya diserahkan kepada Sekertariat Negara untuk dipergunakan di lingkungan istana Negara, kantor-kantor kedutaan Negara sahabat di Indonesia dan kantor kegubernuran di seluruh wilayah Negara Kesatuan Indonesia. Hal ini diperkuat oleh kesaksian Akhmad Taufiqurrachman, S.AP., MAB selaku Kasubbag Komunikasi Pimpinan Biro Administrasi Setda Jawa Barat. Akhmad adalah bagian dari tim Paskibra Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang mengibarkan duplikat sang saka merah putih untuk pertama kalinya pada peringatan HUT RI tahun 1977. Duplikat sang saka merah putih yang berada di lingkungan provinsi Jawa Barat selalu dikibarkan setiap perayaan HUT RI dan sampai sekarang masih dalam keadaan baik.

Kegiatan pemutaran video tentang duplikasi bendera tanpa jahitan dibuka secara resmi oleh Direktur Politeknik STTT Bandung, Tina Martina dan Kepala Balai Besar Tekstil (BBT), Cahyadi. Dalam pidato pembukaannya, kedua pimpinan sepakat untuk meningkatkan kerjasama dalam memberikan pelayanan terbaik dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengembangan tekstil kepada masyarakat. Menjadikan kedua institusi sebagai “One stop solution for textile industries”, mengutip istilah yang digunakan oleh Cahyadi. Bahkan beliau menyatakan bahwa saat ini dwi warna tanpa jahitan tengah diproduksi kembali dengan sejumlah keunggulan sifat-sifat fisika dan kimia pada kainnya. Bendera ini kemudian akan disitribusikan tidak hanya ke kantor gubernur melainkan ke seluruh kantor kota dan kabupaten di wilayah Indonesia. Mengukuhkan kontribusi ilmu terapan tekstil dalam bendera sebagai lambamng sebuah bangsa.

Ada beberapa nilai positif yang dapat kita ambil darii kegiatan hari ini. Sikap pantang menyerah, ketekunan dan ketakwaan terhadap Tuhan harus kita tanamkan dalam mencapai tujuan meski di tengah keterbatasan. Ketiganya juga dapat menjadi teladan bagi kita untuk berkontribusi terhadap negara melalui keahlian dan ilmu pengetahuan yang kita miliki. Secara khusus Elang mengajak para ahli tekstil agar dapat memberikan manfaat kepada bangsa dengan cara mewujudkan industri tekstil yang mandiri, tidak bergantung pada orang (bangsa) lain. Seraya mengenang masa lalu, di akhir pemaparannya Elang juga memberikan ucapan terima kasih sekaligus mendo’akan anggota timnya yang sebagian besar telah meninggal dunia. Sebuah sikap positif, mengapresiasi kontribusi orang lain dalam sebuah pencapaian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X