Kita telah memasuki era industri 4.0 di mana program Making Indonesia 4.0 adalah bagian dari upaya Kementerian Perindustrian dalam membangun ekosistem inovasi industri 4.0. Sebagai bagian dari program Making Indonesia 4.0, Kementerian Perindustrian membangun Pusat Inovasi dan Pengembangan SDM Industri 4.0 (PIDI 4.0) atau Digital Innovation and Capability Center untuk mempercepat adopsi Industri 4.0 di Indonesia.

Secara bertahap telah dibangun jaringan satelit PIDI 4.0 pada Satuan Kerja di lingkungan Kementerian Perindustrian salah satunya di Politeknik STTT Bandung, dengan dua fungsi yaitu sebagai Showcase Center dan Capability Center. Untuk menjalankan fungsi tersebut pada hari Selasa 8 Maret 2022 bertempat di Auditorium Gedung Magister Lt. 4, Politeknik STTT Bandung menyelenggarakan sebuah kegiatan melalui Unit Inkubasi dan Transformasi 4.0 berupa Sosialisasi Industri 4.0 yang bertujuan memberikan wawasan mengenai industri 4.0, yang kemudian dilanjutkan dengan pendampingan transformasi 4.0 untuk IKM.

“Semoga pelaksanakaan sosialisasi ini dapat banyak memberikan manfaat bagi para pelaku usaha IKM dan membuka wawasan akan penerapan industri 4.0 dan label halal bagi produk-produk IKM tekstil dan produk tekstil, serta membuka jejaring kerja sama dan kolaborasi baik dalam teknologi tekstil maupun aspek yang lain. “ ujar Direktur Politeknik STTT Tina Martina dalam pembukaan acara tersebut.

Pada kesempatan yang sama, GM Industrial IoT Telkomsel sekaligus Tenaga Ahli Industri 4.0 Kemenperin Fadli Hamsani menuturkan, di tahun 2022 pemanfaatan digitalilasasi dalam ranah industri 4.0 di industri baik industri kecil maupun besar itu meningkat sangat drastis dan semakin masif. “Karena digital bukan lagi sebuah pilihan tapi menjadi sebuah keharusan, customer expectation menjadi tujuan, customer experiences menjadi pertimbangan dan kita bisa memanfaatkan teknologi yang saat ini sudah ready.”

Selain penerapan industri 4.0, Kementerian Perindustrian juga saat ini sedang mengembangkan industri halal melalui standarisasi dan sertifikasi termasuk SNI bidang industri dan jaminan produk halal bidang industri. Hal ini dilakukan melihat adanya potensi yang sangat besar yaitu populasi penduduk muslim di Indonesia yang mencapai 231 juta jiwa per Agustus 2021 (data Kementerian Dalam Negeri), dan 1,8 miliar jiwa penduduk muslim dunia, terdapat potensi pasar global untuk produk halal yang diperkirakan mencapai sekitar USD 3 Triliun di tahun 2023. Namun demikian industri dalam negeri belum memanfaatkan potensi ekonomi halal secara maksimal.  Untuk itu Kemenperin berupaya mendorong pengembangan industri halal dan memandang perlu penguatan seluruh rantai nilai industri halal (halal value chain), dari sektor hulu sampai hilir.

Berbagai bentuk kerjasama dapat dilakukan antara seluruh stakeholder yaitu pemerintah melalui dinas perindustrian dan perdagangan, pelaku industri, perguruan tinggi serta pihak lainnya untuk perkembangan tekstil dan garmen nasional. Didukung oleh Kementerian Perindustrian melalui BPSDMI, Polteknik STTT Bandung memiliki berbagai fasilitas yang dapat dimanfaatkan oleh industri untuk pengembangan ilmu penetahuan, proses serta produk.

“Program ini sesuai dan searah dengan program Provinsi Jawa barat, mari kita terus kembangkan baik tekstil maupun industri lainnya. Seperti yang kita ketahui sekarang ini banyak kemasan seperti ekonomi halal, green economy maupun syariah, tapi ujung-ujungnya itu ke makanan, fashion, dan kriya, 3 sektor itu yang terbesar di Jawa Barat. Saya ingin dilanjutkan kerja samanya  tidak hanya sosialisasi, pelatihan, dan peralatah disini juga lengkap sehingga kita bisa berkolaborasi untuk meningkatkan para IKM – IKM tersebut. ” tambah Kepala Disperindag Jawa Barat Iendra Sofyan yang turut hadir sebagai narasumber pada acara sosialisasi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X