Politeknik STTT Bandung sebagai perguruan tinggi vokasi di bawah Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memiliki tanggungjawab dan peran yang besar terhadap pengembangan sumber daya manusia (SDM) industri di bidang tekstil. Hal tersebut diwujudkan melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat) serta program-program lain yang mendukung terwujudnya SDM industri yang kompeten dan berdaya saing global.

Sebagai salah satu kegiatan dalam mendukung hal tersebut, pada hari Rabu 21 april 2021 Politeknik STTT Bandung menyelenggarakan webinar dengan judul “Sustainable Textile”, sebagai rangkaian acara dari acara Grand Launching 100 th Pendidikan Tekstil Indonesia. Bertepatan dengan hari Kartini, webinar yang dikemas dalam talkshow interaktif ini menghadirkan narasumber dan moderator yang merupakan representasi kartini di bidang tekstil yang telah banyak menginspirasi terutama di bidang sustainable textile, yaitu Ibu Gati Wibawaningsih selaku Direktur Jenderal IKMA Kemenperin dan Aryenda Atma selaku Founder & Creative Director of Pable.id dengan dipandu oleh Pipit F. Hayati (GM for Indonesian, PT. Testex) selaku moderator.

Industri tekstil merupakan salah satu industri yang memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan negara. Namun di sisi lain, proses tekstil sering dianggap kurang atau bahkan tidak ramah lingkungan oleh banyak pihak. Ini yang menjadi salah satu hal yang mendasari Politeknik STTT Bandung mengusung tema sustainable textile dalam webinar yang dilaksanakan secara daring melalui aplikasi zoom meeting dan juga disiarkan secara langsung melalui youtube resmi Politeknik STTT Bandung.

“Setiap tahunnya, industri tekstil / fashion dunia menyumbangkan tidak kurang dari 20% limbah air bumi dan 10% dari emisi karbon dioksida. Limbah dan polusi hasil buangan industri ini bahkan lebih banyak dari hasil emisi gabungan seluruh penerbangan internasional dan pelayaran,” ujar Pipit F. Hayati pada saat mengawali kegiatan webinar selaku moderator, Rabu (21/4).

Sustainable textile atau tekstil berkelanjutan merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menciptakan industri hijau yang ramah lingkungan. Penerapan sustainable textile sendiri telah banyak dilakukan di ranah IKM dibawah pembinaan IKMA. Dalam pemaparannya di webinar ini, Gati Wibawaningsih menjelaskan bahwa Kemenperin telah menerapkan langkah strategis guna mendukung sustainable textile di IKM, diantaranya dengan melakukan pembinaan dan sosialisasi di IKM tekstil mengenai serat alam sebagai bahan baku tekstil berkelanjutan.

“Tujuan dari pembangunan industi hijau yang juga tercantum dalam RIPIN adalah mewujudkan industri yang berkelanjutan dalam rangka efisiensi dan efektivitas penggunaan SDA secara berkelanjutan, menjaga kelestarian lingkungan dan memberikan manfaat kepada masyarakat” ujar Gati.

“Kemenperin dalam upaya mendorong industri menuju industri hijau melakukan kolaborasi pentahelix, yaitu kolaborasi lima unsur pemangku kepentingan (stakeholder) dimana terdapat Pemerintah, Akademisi, Bisnis, Komunitas dan juga Media yang berperan penting dalam pengembangan industri, terutama dalam industri perwarnaan alam” imbuhnya.

Di sisi lain, Aryenda Atma selaku praktisi yang menjadi narasumber dalam webinar ini juga menyampaikan lebih dalam mengenai sustainable textile. Atma bersama Pable menerapkan konsep ekonomi sirkular dengan mendaur ulang limbah kain dan pakaian bekas menjadi kain tenun yang memiliki ciri khas  #wearecircular.

“Menerapkan Closed Loop System pada Ekonomi Sirkular, Pable mengekstrak nilai maksimum dari potensi limbah tekstil dengan mendaur ulang dan memprosesnya kembali menjadi material terbarukan (secondary material), sehingga dapat digunakan kembali menjadi bahan siap olah berupa kain tanpa harus mengeksploitasi material baru (virgin material),” ujar Atma dalam pemaparannya.

Atma juga menjelaskan mengenai prinsip recycle-reduce-reuse yang ia kerjakan bersama melalui Pable. “Proses ini dimulai dari proses sortir berdasarkan jenis bahan dan warna tekstil, proses pemotongan atau pencacahan secara manual maupun otomatis, proses pelembaban untuk mempekuat serat, pembuatan fiber sebagai output pertama dari olahan daur ulang, pemintalan fiber, pemintalan fiber ke benang, untuk kemudian dilakukan proses pertenunan untuk menjadi kain” jelas Atma.

Webinar bertajuk sustainable textile dalam bentuk talkshow yang terbagi menjadi 3 segmen ini, selain membahas program dan apa saja yang telah dilakukan pemerintah, dalam hal ini Kemenperin melalui IKMA selaku regulator serta Pable sebagai praktisi, juga membahas mengenai potensi ekonomi serta rencana dan strategi ke depan dalam mengembangkan sustainable textile sebagai upaya mendorong industri menuju industri hijau.

“Potensi pengolahan limbah tekstil ini masih sangat luas, dan ini memerlukan upaya serta kerjasama dari banyak pihak untuk dapat membantu serta memanfaatkan potensi dari limbah-limbah tekstil menjadi produk baru yang memiliki nilai lebih serta ciri khas tersendiri” Atma menambahkan.

Atma bersama Pable juga telah menyiapkan rencana dan strategi ke depan dalam mengembangkan ekonomi sirkular, mulai dari pengembangan produk, pemberian edukasi tentang ekonomi sirkular, serta melalukan pendekatan kepada korporasi. “Ini semua memerlukan partisipasi dan dukungan dari Pemerintah, pelaku industri, dan juga masyarakat” imbuhnya.

Selain pembahasan dan diskusi mengenai sustainable textile dari kedua narasumber yang dilihat dari dua sudut pandang yakni IKMA sebagai regulator dan Pable sebagai praktisi, Direktur Politeknik STTT Bandung, Tina Martina dalam kesempatannya yang juga bergabung dalam webinar menambahkan, “Webinar yang dikemas dalam talkshow ini luar biasa, bisa menghadirkan sisi regulator, praktisi, sekaligus kami sebagai akademisi. Tentunya akan banyak hal yang dapat kita kolaborasikan dan kerjakan bersama lebih jauh mengenai sustainable textile ini, mulai dari penelitian hingga pengujian yang dapat dilakukan menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada di Politeknik STTT Bandung”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X