Bendera merah putih merupakan simbol kedaulatan Indonesia. Bendera merah putih dijahit oleh Fatmawati, Istri Soekarno. Bendera Indonesia pertama kali dikibarkan pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta setelah Soekarno membacakan teks proklamasi Indonesia.

Bertepatan pada tanggal 17 Agustus, seluruh rakyat Indonesia melaksanakan upacara peringatan HUT RI. Seiring bertambahnya  tuanya Indonesia, tentu Sang Saka Merah Putih memiliki batas ketahanan kain. Pada tanggal 21 Januari 1971 dibuatlah duplikat massal pertama Bendera Merah Putih sebanyak 100 lembar di Institut Teknologi Tekstil (ITT), Bandung (sekarang : Politeknik STTT Bandung).

Pembuatan duplikat massal ini sesuai dengan Surat Keputusan Direktur Utama Institut Teknologi Tekstil No : 034/I.3.6.2/71 tentang Penetapan Panitia Pelaksana Pembuatan Duplikat Bendera Pusaka yang terbuat dari Sutera Alam. Dipimpin langsung oleh (Alm) Pawitro, S. Teks. Surat ini ditandatangani oleh Soerjo Soejarso selaku  Direktur Utama Institut Teknologi Tekstil.

Bendera sebanyak 100 lembar ini memiliki batas waktu sampai tanggal 30 Juni 1971. Bendera tersebut akan dikibarkan di semua lembaga instansi negara baik dalam negeri maupun luar negeri.

Proses pembuatannya memerlukan waktu yang cukup panjang. Terbatasnya mesin-mesin dan teknologi yang masih belum berkembang menjadi faktor utama penyelesaian duplikat bendera-bendera tersebut. Sedangkan, untuk proses pembuatannya di ITT sendiri dengan menggunakan mesin tenun merk Suzuki.

Proses penyelesaiannya diselesaikan sebelum tanggal keputusan dan diserahkan langsung Sekretariat Negara. Pada tanggal 17 Agustus 1971 dikibarkanlah duplikat massal Bendera Merah Putih ini di Istana Negara, instansi lembaga negara hingga kedutaan besar di luar negeri.

Setelah pembuatan Bendera Sang Saka Merah Putih, ITT masih memproduksi permintaan tekstil negara seperti selempang penghargaan hingga pita merah putih. Pada tahun 1982, dibuatlah duplikat massal Bendera Merah Putih kedua dengan jumlah 300 lembar yang diproduksi oleh Balai Besar Tekstil (BTT) sesuai dengan tupoksinya, kemudian dicelup dengan bekerjasama dengan PT Ratna Ciawi.

Berbeda dari sebelumnya, pada tahun tersebut bahan yang digunakan spun silk impor. Hal ini didasarkan permintaan Soeharto karena lemahnya kekuatan kain jika dikibarkan diatas tiang bendera.  Bahan spun silk dipercaya memiliki ketahanan kain yang kuat dibandingkan serat sutera alam.

Sejak tahun 1979, ITT dikembangkan menjadi dua institusi yakni Balai Besar Tekstil dan ITT yang kemudian berubah menjadi Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (STTT).

Pernyataan :
1. Sunarjo, Bk. Teks. ( Alumni ITT Angkatan 62)
2. Widajat, Bk. Teks (Alumni ITT Angkatan 61)

3. Elang (Alumni ITT Angkatan 67)

Penulis : Farhan, Teknik Tekstil 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X